“Cinta tak bisa dibuktikan melalui Seks”

Published 17 Januari 2008 by arney

Cinta Tidak Bisa Dibuktikan Melalui Seks ..

Paulus Subiyanto, Pendiri Lembaga Pemberdayaan Relasi Suami-Istri “New  Life Institute” di Bali .

 Seks bukan ujian bagi cinta, justru sekslah yang ingin diuji oleh  seseorang dan yang dihancurkan oleh pengujian itu sendiri. (Walter > Trobisch) 

 Memiliki kecerdasan seksual berarti kau berani bersikap kritis dan menolak kebohongan-kebohongan yang sering dilontarkan orang seputar hubungan seksual. Kebohongan yang mencoba memberi alasan pembenar dan menjebakmu untuk melakukannya. Karena sering kali hubungan bisa terjadi “begitu saja”, tanpa sempat untuk berpikir dan membuat pilihan maka saatnya sekarang kau tahu 5 kebohongan yang sering menjebak korbannya: 

 1. Seks Sebagai Bukti Cinta > >

Bagi wanita sering kali seks dipahami sebagai merasa “dirinya diinginkan” maka sering kali pria membohonginya dengan dalih meminta “bukti cinta”. Padahal setelah melakukan hubungan seksual, justru sebaliknya yang  didapat: rasa bersalah, gelisah, kotor, dimanfaatkan, takut, dll. Cinta tidak bisa dibuktikan melalui seks, melainkan melalui kesediaan untuk membiarkan orang lain tetap mandiri dan bebas. Jelas, melalui seks orang akan kehilangan kemandiriannya, dan terjadi ketergantungan secara emosional. Jika kau cerdas, jangan mau dibohongi untuk melakukan hubungan seks sebagai bukti cinta. Seks hanya bisa menjadi ungkapan cinta sejauh ada komitmen dan tanggung jawab. Di luar itu, seks tãdak akan pernah menjamin apa-apa. Coba kau refleksikan diri, apakah dorongan untuk “merasa diinginkan” begitu kuat dalam dirimu? Apakah selama ini orang-orang dekat (orangtua, saudara-saudara, teman teman) kurang menerima dan menyayangimu? Jika jawaban “ya”, kau harus lebih hati-hati menghadapi kebohongan yang pertama ini.

2. Seks untuk Merasa Mampu > >

Kaum pria sering kali lebih menghayati seks sebagai dorongan untuk merasakan bahwa dirinya “mampu”. Rasa rendah diri atau ketidakmampuan di bidang bakat dan tidak memiliki prestasi bisa menjadi pemicu untuk merasakan bahwa dirinya memiliki kemampuan melalui hubungan seksual. Dalam hal ini, seks bukan hanya sebagai pemuas ketegangan nafsu, melainkan juga memenuhi hasrat untuk merasa mampu. Sering kali pria merasa bangga jika bisa melakukan hubungan seks, apalagi dengan beberapa orang. Padahal, semakin mencari pemuasan secara seksual, semakin terperosok dalam dan kebencian terhadap diri sendiri. Memang setiap manusia memiliki kebutuhan untuk diakui, namun terlebih dahulu kau harus belajar mengakui dan menerima diri sendiri. Kau juga harus yakin bahwa setiap manusia memiliki bakat atau potensi tertentu, yang jika dengan tekun dan gigih dikembangkan bisa menolong untuk memenuhi kebutuhan akan pengakuan. Apakah kau merasa tidak puas dengan apa yang kaucapai sekarang ini? Apakah > kau merasa rendah diri karena merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa?  jawaban “ya”, berhati-hati terhadap jebakan kebohongan yang kedua 

3. Seks Harus Dicoba > >

Ada yang beranggapan bahwa seks sama dengan keterampilan atau alat lainnya, perlu dicoba dan dilatih sebelum digunakan secara permanen. Pertama, anggapan ini merendahkan seksualitas manusia sebagai “barang” seperti mobil yang perlu test drive sebelum dibeli. Bisa diramalkan, nantinya orang yang menganut aliran ini akan mudah berganti pasangan seperti halnya berganti mobil sesuai selera dan mode. Kedua, sebagai keterampilan, jangankan manusia, binatang pun tak pernah belajar bisa melakukan hubungan seks. Dengan demikian, yang perlu dicoba dan dilatih selama masa pacaran sebenarnya adalah komitmen dan tanggung jawab. Jangankan seks, ketika kau masuk toko busana pun ada barang tertentu yang  tidak boleh dicoba: pakaian dalam. Nah, kalau bungkusnya saja tidak boleh dicoba, apalagi “isi”nya! Berhadapan dengan kebohongan ketiga ini, tak ada cara lain kecuali memasang pengumuman “JANGAN COBA COBA MENCOBA SEKS!”

4. Seks Memperkokoh Hubungan > >

 Kebohongan lain yang sering kali menggoda pasangan yang sudah cukup lama menjalin hubungan adalah “untuk memperkokoh hubungan”. Mereka merasa sudah menemukan banyak kecocokan, lalu berpikir apa salahnya melakukannya. Apa  bedanya antara sekarang dan nanti? Ketakutan akan kehilangan hubungan juga  mendorong orang untuk melakukannya demi memperkokoh hubungan. Padahal,  hubungan akan tumbuh semakin kokoh apabila masing-masing pihak semakin memiliki dan menghargai kebebasannya untuk menjadi dirinya sendiri. Hubungan seks memang akan “melekatkan”, namun tidak memperkokoh, justru merapuhkannya. Manusia akan kehilangan motivasi apabila tujuannya sudah tercapai, apa yang didambakan sudah diraih. Dinamika pertumbuhan hubungan justru akan mengalami kemandekan karena hubungan seksual, biarlah masing-masing pihak belajar menunda keinginan dan menempatkan hubungan seks sebagai “hadiah terindah” untuk diri sendiri dan pasangannya pada saatnya nanti. Ibarat tanah dan tanaman, hubungan akan menyediakan diri  untuk tumbuh suburnya kehidupan seksual. Hanya di dalam hubungan yang kokoh, dengan sendirinya hubungan seksual pun lebih bermakna. Jika kau tergoda untuk melakukan hubungan seksual karena merasa hubungan sudah beres, justru pada saat itulah kau perlu mencoba menemukan apa yang tidak beres dalam hubunganmu.

5. Seks Mendewasakan > >

Secara biologis, usia tiga belas tahun pun organ seksual sudah “dewasa”, sudah komplit dan siap berfungsi sebagaimana layaknya orang dewasa. Namun secara psikologis, remaja masih membutuhkan proses pemelajaran dalam hubungan bersama orang lain, mengelola emosi dan berbagai dorongan yang ada dalam dirinya, termasuk hasrat seksualnya. Kebohongan sering mengambil logika keliru “agar dewasa maka perlu hubungan seks”. Orang dewasa adalah mereka yang mampu memilih dengan bebas terhadap perilakunya. Setiap pilihan perlu pertimbangan masak-masak dan memperhitungkan risikonya. Setiap pilihan menuntut tanggungjawab dan komitmen yang tinggi, bukan didasarkan suka dan tidak suka, atau keterpaksaan dan ketakutan. Ketika orang mengambil keputusan untuk menikah, pertama-tama bukan demi seks, namun keyakinan bahwa hubungannya akan “digaransi” oleh komitmen dan tanggung jawab. Sebelum orang memutuskan untuk berhubungan seks, terlebih dulu (dan yang lebih utama) ia harus menimbang masak-masak hubungan macam apa yang akan menjadi landasannya. Jadi, seks tidak mendewasakan, melainkan sebaliknya kedewasaanlah yang menentukan seks.

Latihan: > >

1. Duduklah dengan tenang.

2. Pikirkan perjalanan hubunganmu dengan pacar.

3. Singkirkan fantasi-fantasi seks yang mungkin muncul lalu coba renungkan kebohongan mana yang sering menyusup dalam hubunganmu. 

4. Buatlah komitmen dengan diri sendiri terlebih dahulu, nantinya sampaikan kepada pacarmu bahwa kau ingin menjaga hubungan agar tak dicemari dengan hubungan seksual.

Mantra: > >

Aku mau menguji diriku 

Dengan menunda keinginan untuk berhubungan seks

Belajar saling menghormati agar hubunganku semakin kokoh

Aku pasti mampu 

 (SMART SEX)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: