Sunan Giri (Raden Paku)

Published 24 Desember 2009 by arney

Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-12 dari Husain bin Ali, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.

Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.

Beberapa babad menceritakan pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.

Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW; yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut.

Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Dipaksa untuk membuang anaknya, Dewi Sekardadu menghanyutkannya ke laut.

Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.

Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Surabaya untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya dan Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.

Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden ‘Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.

Iklan

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Published 24 Desember 2009 by arney

Syeh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. sebenarnya jauh sebelum kedatangan beliau di Gresik sudah ada masyarakat Islam walaupun jumlahnya tidak seberapa. Hal ini dapat di buktikan dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 M.
Syeh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 adalah seorang ahli tata Negara yang ulung. inskripsi yang terdapat pada batu nisan beliau menunjukan hal itu. Huruf-huruf pada batu nisan itu adalah huruf arab, terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang lebih demikian : “Inilah makam almarhum almaghfur yang berharap rahmad Tuhan kebanggaan para Pangeran, sendi para Sultan dan para Menteri penolong para fakir dan miskin yang berbahagia lagi syahid cemerlangnya simbul Negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya dengan rahmatnya dan keridlaan-nya dan dimasukan kedalam Surga.

Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriyah.
Demikianlah bunyi tulisan yang ada di nisan makam Syeh Maulana Malik Ibrahim Penduduk pribumi mengenal beliau sebagai Kake Bantal. Ini membuktikan bahwa pada masa hidup beliau beliau berda’wah dengan cara yang bijaksana beliau dapat beradaptasi dengan masayarakat disekelilingnya.
Agama dan adat istiadat lama tidak langsung ditentangnya dengan frontal dan penuh kekerasan melainkan beliau perkenalkan kemuliaan dan ketinggian akhlak yang diajarkan oleh agama Islam. Beliau langsung memberi contoh sendiri dalam bermasyarakat, tutur bahasanya sopan, lemah lembut,santun pada fakir miskin, hormat pada yang lebih tua dan menyanyangi kaum muda.
Dengan cara itu ternyata sedikit demi sedikit banyak juga rakyat jawa yang mulai tertarik pada agama Islam dan pada akhirnya mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.
Pada masa itu kerajaan yang terbesar di pulau Jawa adalah kerajaan Majapahit. tetapi sesungguhnya kerajaan itu sudah keropos baik dari luar maupun dari dalam. Terutama sejak ditinggalkan oleh Maha Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk. Majapahit dilanda perang saudara yang tidak ada habis-habisnya rakyat jelata menjadi korban. sementara kerajaan-kerajaan lain yang dahulu ditundukkan oleh Mahapatih Gajah Mada sudah banyak yang memisahkan diri.
Kesetiaan para pembesar dan para adipati mulai menipis, banyak upeti kerajaan yang tidak sampai ke tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para adipati. Kejahatan melanda di mana-mana banyak perampok dan pencuri. Bahkan banyak pula satuan-satuan prajurit yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok, menggarong harta para penduduk atau rakyat jelata.
Sering kali Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Kake Bantal dan murid-muridnya ketanggor gerombolan perampok ketika mereka sedang berda’wah keliling desa-desa.
Pada suatu hari ada gerombolan perampok menyerang rumah penduduk. Kebetulan salah seorang murid si Kake Bantal mengetahuinya. Murid tersebut segera membantu penduduk desa untuk melawan perampok.
Para penduduk desa bertempur melawan anak buah si pemimpi peampok, sedang murid si Kake Bantal menghadapi pemimpin perampok itu sendiri. Keduanya bertempur dengan seru dan hebat, keduanya sama-sama mengeluarkan ilmu kesaktian hingga pada suatu ketika sang murid berhasil menyerangkan tendangan telak ke dada pemimpin rampok.
Pemimpin rampok itu terjungkal ke tanah dengan nafas kembang kempis. Wajah perampok itu tampak merah padam pertanda marah, agaknya baru kali ini dia menemui lawan yang tangguh. Dia berusaha bangkit berdiri namun tenaganya sudah lemah, mulutnya mengeluarkan darah segar.
“Hayo ! Perintahkan anak buahmu menyingkir dari desa ini !” Bentak murid Kake Bantal sembari melangkah mendekati pemimpin rampok yang jatuh terkapar di tanah. Pemimpin rampok itu hanya terdiam seribu bahasa, sepasang matanya penuh kemarahan menatap kearah murid si Kake Bantal.
“Perintahkan anak buahmu meninggalkan desa ini !” Hardik murid si Kake Bantal sembari berjongkok, sepasang tangannya terkepal dan siap dihantamkan ke dada pemimpin rampok.
Pemimpin rampok itu masih berdiam diri.
“Kalau kau tidak mematuhi perintahku, kuhantam kau dengan pukulan mautku !” ancam murid si Kake Bantal.
Di luar dugaan, tiba-tiba pemimpin rampok itu membuang lidahnya ke wajah murid si Kake Bantal. Murid si Kake Bantal tak sempar mengelak, ludah itupun menempel kewajahnya seketika kulit wajah murid si Kake Bantal menjadi merah padam pertanda marah. Sepasang tangannya terkepal makin erat, sekali dia melayangkan tangannya tentu dada pemimpin rampok itu jadi ambrol.
Melihat kemarahan murid si Kake Bantal seketika wajah pemimpin rampok menjadi pucat-pasi. Hatinya mulai keder.
“Kali ini tamatlah riwayatku, “guman si pemimpin rampok.
Tapi sungguh aneh. Tiba-tiba murid si Kake Bantal mengurungkan serangannya. Dia bangkit berdiri tanpa menggelar sikap siaga. Wajahnya yang tadi merah padam dilanda api kemarahan sekarang pulih kembali seperti sedia kala. Perlahan dia membersihkan ludah di wajahnya.
“Mengapa ? Mengapa kau tak jadi menyerangku ?’’ Tanya pemimpin perampok. ‘’karena tadi kau telah membuatku marah,’’ jawab murid Kake Bantal. ‘’Aku tidak boleh membunuh orang dalam keadaan marah, itu termasuk perbuatan dosa’’ kenapa berdosa ? Bukankah aku orang jahat yang memang pantas untuk di bunuh ?’’ ujar pemimpin perampok itu. ‘’ tadi ………’’ kata murid Kake Bantal.’’ Sebelum kau meludahiku dan sebelum dia marah, aku boleh membunuhmu, karena niatku membunuhmu adalah untuk memerangi kejahatan. Tapi setelah kau meludahiku, maka hatiku jadi marah. Padahal agamaku melarang umatnya untuk menghukum orang dalam keadaan marah. Pemimpin tampak itu tercenung. Untuk beberapa saat dia berdiam diri’’ Betapa luhur ajaran agamamu, apakah nama agama itu ? Tanya perampok itu. ’’ Islam?’’ jawab murid si Kake Bantal.’ ’Islam artinya selamat. Siapa yang memeluk agama Islam akan selamat dan berbahagia hidupnya di dunia maupun di akhirat.’’ ’’ Aku adalah bekas seorang perwira Majapahit yang membelot dan jadi pemimpin rampok. Kejahatanku bertumpuk-tumpuk, dosaku setinggi gunung,’’ kata si pemimpin rampok.’’ Apakah Tuhan masih mengampuniku?’’ ’’ Kenapa tidak?’’ sahut murid si Kake Bantal.’’ Misalkan dosamu setinggi langit dan sepenuh bumi, kalau kau masuk agama Islam, bertobat secara sunguh-sungguh. Artinya kau tidak akan mengulang kejahatanmu, maka Tuhan mengampunimu. Dosa-dosa di masa lalu di hapus semuanya.’’ ’’ Benarkah begitu ?’’ sahut pemimpin rampok. ’’ Aku bicara sebenarnya, dusta adalah berbuatan dosa’’ ujar murid Kake Bantal. Tiba-tiba pemimpin rampok itu berusaha bangkit berdiri. Karena tubuhnya masih lemah dia segera robo lagi. cepat-cepat murid Kake Bantal segera menyambarnya. Sementara itu pertempuran antara penduduk desa dengar para perampok masih berlangsung dengan seruhnya. Tiba-tiba terdengar bentakan yang membahana. Semua orang terkejut dan segera menghentikan pertempuran.
’’ Ternyata bentakan itu berasal dari pemimpin rampok yang berdiri di samping murid Kake Bantal. Murid Kake Bantal itu telah menolong pemimpin rampok dengan cara menyalurkan tenaga dalam ke tubuh pemimpin rampok sehingga tenaga pemimpin rampok itu menjadi pulih seperti sedia kala.
’’ Dengarkan semuanya ’’ Aku pemimpin rampok itu. Mulai sekarang kutinggalkan dunia kejahatan. Aku sudah bosan hidup bergelimbang dosa. Mulai hari ini aku masuk agama Islam, menjadi pengikut Kake Bantal.
Kalian yang menjadi anak buahku boleh pilih, tetap jadi gerombolan perampok atau mengikuti jejak baru yang kutempuh hidup secara baik-baik bersama masyarakat’’
Jumlah pemimpin perampok itu ada dua puiluh orang, sepuluh orang langsung membuang senjatanya berupa pedang dan tombak. Mereka menyatakan diri mengikuti pimpinannya yaitu mulai hidup baru secara baik-baik. Namun sepuluh rampok lainnya segera melompat ke punggung kuda dan berkata pemimpin rampok.
“Tekuk Penjalin “ kata mereka. “Tak sudi kami mengikuti jejakmu. Biarkan kami menempuh jalan kami sendiri”.
“Terserah kalian “ sahut pemimpin rampok yang ternyata bernama Tekuk Penjalin .” tapi perlu kalian ingat, jangan mencoba coba menganggu desa ini lagi. Bila ini terjadi, maka aku sendiri yang akan membasmi kalian.
Sepuluh orang sudah naik ke punggung kuda itu tidak menjawab melainkan langsung menggebrak kudanya berlari kencang ke luar desa. Beberapa orang penduduk desa yang masih merasa geram segera menendang dan memukuli sepuluh rampok yang duduk bersimpuh di tanah tanpa memegang senjata. Murid Kake Bantal segera membentak penduduk desa itu,” Hentikan, tidak pantas menyerang orang yang sudah menyerahkan diri “
“Mereka sudah sering membuat kami menderita “ protes para penduduk. “Sekarang mereka jadi urusanku “ sahut murid Kake Bantal. Murid Kake Bantal kemudian mengajak KI Tekuk Penjalin dan anak buahnya pergi dari desa itu.
Demikianlah salah satu contoh ajaran da’wah yang dilaksanakan Kake Bantal dan murud-muridnya. Mereka sangat toleran terhadap kepentingan pribadi, patuh terhadap perintah agama dan teguh dalam menjauhi kemunkaran.
Sebagian besar penduduk jawa yang masuk Islam adalah dari kalangan rakyat biasa. Mereka yang tergolong dari Kasta Brahmana biasanya enggan menyingkir ke tempat-tempat sunyi, diantaranya mereka ke Tengger dan pulau Bali. Ini dapat mengerti karena kalangan brahmana tidak dapat beraul sederajat dengan kasta Waisya atau Sudra yang kedudukannya diangap lebih rendah dan hina. Dengan masuk Islam berarti mereka merasa dicopot kedudukannya dari derajat yang lebih tinggi karena islam tidak membeda-bedakan umatnya. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Islam datang ke Indonesia ini adalah dengan jalan damai. Tidak seperti agama Nasrani yang datang ke Nusantara bersamaan dengan kaum penjajah.
Menurut berbagai penyelidikan, agama Islam tersiar ke seluruh tanah Jawa dan Nusantara ini dengan jalan damai karena alasan beberapa hal yaitu:
1. Para penyiar agama islam yang datang mula-mula adalah para pedagang Dan ahli Sufi dan para wali.
2. Para mubaligh itu menggunakan metode da’wah yang tepat sasaran Yaitu sebagaimana tersebut dalam AlQur’an yan berbunyi, “Hendaklah engkau ajak orang kejalan Allah dengan hikmah (kebijaksanaan), dengan peringatan-peringatan yan ramah serta bertukar fikiran dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya. “(QS. An Nahl:125)
3. Para mubaligh Islam tersebut dapat menyelami dan memahami watak dan jiwa bangsa Indonesia.
4. Sifat toleransi dari bangsa Indonesia itu sendiri yang dapat menerima setiap yang datang dari luar kemudian disesuaikan dengan kepribadian sendiri.
5. Penyiaran Islam di Jawa sebagian besar melalui saluran tasawwuf atau metafisika.
6. Dengan jalan mengawinkan kepercayaan lama dengan kepercayaan baru inilah yan menyebabkan agama Islam dapat tersiar dengan damai.
Sekarang agama Islam sudah tersiar ke seluruh Indonesia, adalah menjadi tugas sarjana-sarjana Islam untuk meluruskan Islam dari berbagai hal yang berbau tahayul dengan cara yang bijaksana tanpa menuding peran Wali yang telah menyebarkan dan memperkenalkan Islam kepada penduduk Nusantara. Setiap jaman ada tantangannya, ibarat hutan, para wali telah membabatnya dan menjadikannya sebagai tempat tinggal yang nyaman, adalah generasi berikutnya yang harus menyempurnakan pekerjaan para wali tersebut.

Sunan Drajat

Published 24 Desember 2009 by arney

Sunan Drajat bernama kecil Raden Syari­fuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me­ngambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.

Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Ia terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempu­nyai otonomi.

Sebagai penghargaan atas keberha­silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.

Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.

Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran Kabupaten Lamongan.

Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama islam di desa Drajad sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi

Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyer – Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaran pribadi.

Sedikit mengerti hakikat CINTA

Published 20 Mei 2009 by arney

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(afzan m. wahab*)

Catatan 240209

Published 24 Februari 2009 by arney

It’s Tuesday, 24th February 09 Wakakakakakakak… dasar cowo,, bisa2nya manusia yang namanya DI** …datang lagi di hidupku,, dia pikir aku bisa dibuat pelampiasan cintanya pada cewe-nya… kurang ajar,, emangnya guwa cewe apaan…xixixixixix… Tunggu aja… gmn aku bias buat cowo2 model dia jadi insap,,heheheheheh…. Entah kenapa wajah2 en nama2 cowo datang dan pergi dari hidupku… dengan membawa kisahnya sendiri2… yang pasti belum da yang bener dah… yang bisa bikin daku bener2 lope beneran… cinta mereka semua semu… mereka semua sering tertipu pada fisik semata,, dua hari yang lalu ada cowo sms pengen kenal namany KHA***,, dengan segala rayuannya di bilang aku cantik (hwehwehwehweh) emang dia pikir aku seneng dipuji kaya gitu… beuhhhh… cape deh… cowo2 gampang sekali ditipu dengan pandangan mata,,,,,,,,,,, Mereka kok gak nyadar ya…kalo cantik dan fisik itu hanya sementara…hanya sementara…sementara…. Emang dasar.. Pengen deh …kisagku kaya di lagu “Nuansa Bening”…hehehe…. Siapa ya yang bisa mencintaiku dengan bener2 tulus……….????@#!$@#%$%^#^ Aku nungguin kamu pangeran… aku janji bakal setia en mengabdikan diriku dengan benar padamu……………………my husband,, Who is he? Kikikikikikikikik….. lope…lope…. Aneh deh,, Cowok2 cowok…. Tapi bener makin aku tau banyak en kenal sama cowo makin aku ngerti mana yang baek,, ciee tambah dewasa ajah nie guwah….hehehehe

sakitnya patah hati…

Published 26 September 2008 by arney

Ya Allah…

aku hampir tak percaya jika selama 4 tahun ini sia2…

Ini pelajaran buatku…agar aku lbh hati2 lagi… gak boleh terlalu sayang sama orang…

Seharusnya aku tau…gak ada yang patut untuk ku sayang dan gak ada yang bisa menyayangiku sempurna selain ENGKAU…. Ampuniku ya ALLAH.. beri aku kesabaraN dan kekuatan…